Kamis, 12 Januari 2012

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN BONSAI SEBAGAI SALAH SATU KOLEKSI TANAMAN HIAS MINIATUR

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN BONSAI
SEBAGAI SALAH SATU KOLEKSI TANAMAN HIAS MINIATUR

Oleh
I Ketut Catur Wiguna (0913041023)
Jurusan Pendidikan Biologi,  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
 Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak
Bonsai adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat tanaman menjadi miniatur dari bentuk aslinya yang terdapat di alam. Sampai saat ini bonsai masih menjadi tanaman yang diminati masyarakat. Selain bentuknya memang unik, bonsai juga memiliki karya seni tinggi. Tanaman bonsai dibudidayakan selain untuk dijual kepada para konsumen, tanaman ini juga dibudidayakan untuk dijadikan sebagai salah satu koleksi tanaman hias miniatur rumah. Adapun kriteria tanaman yang akan dibuat menjadi bonsai yaitu tanaman dikotil, berumur panjang, tahan hidup menderita, bentuknya indah secara alami dan tahan mendapat perlakuan. Setelah diperoleh kriteria tersebut maka dilanjutkan dengan teknik pembudidayaan tanaman bonsai. Teknik pembudidayaan tanaman bonsai meliputi proses pembuatan bibit tanaman bonsai, pemilihan media tanam bonsai, dan penanaman serta pemeliharaan tanaman bonsai yang didalamnya mencangkup penentuan gaya tanaman bonsai, teknik pembentukan dan penyempurnaan tanaman bonsai.

Kata kunci: bonsai, kriteria, teknik budidaya.

Abstract
Bonsai is a dwarfed plant or tree in a shallow pot with the aim of making a miniature plant from its original form that founding in nature. Nowdays bonsai still be interesting plants of community. In addition beside its unique indeed, bonsai also has a high arting. Besides bonsai plants cultivated for sale to consumers, the plant is also cultivated to serve as one of a collection of miniature ornamental house plants. The criteria for the plants to be made ​​into bonsai plants are dicotyle palnts, long-lived plants, lasting life miserable, beautiful shape naturally and resistant by treated. Having obtained these criteria then continued with the cultivating bonsai plants techniques. The cultivating bonsai plants techniques involves by the process of making bonsai plant seeds, the selection of bonsai growing media, and the planting and maintenance of bonsai plants that covers with the determination of the style of bonsai plants, the formation and refinement bonsai plants techniques.

Keywords: bonsai, criteria, cultivation techniques.
.  
1.      PENDAHULUAN
1.1.      Latar Belakang
Bonsai adalah tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat tanaman miniatur dari bentuk asli pohonnya yang terdapat di alam bebas.  Dalam bahasa Jepang, bonsai berasal dari kata bon yang berarti pot dan sai yang berarti tanaman. Dengan demikian bonsai bisa diartikan sebagai tanaman yang dikerdilkan dan ditanam di pot. Namun jika ada tanaman atau pohon yang ditanam di pot, tetapi tidak memiliki kriteria bonsai tidak bisa disebut dengan bonsai (diakses dari Wikipedia, 2011).
 Setiap jenis tanaman memiliki batasan kerdil yang berbeda. Bisa saja tanaman yang tingginya 1 meter dikategorikan kerdil, dan yang tingginya hanya 0,5 meter tidak masuk dalam kategori kerdil. Jadi , kerdil dalam seni bonsai adalah tanaman yang memiliki penampilan lebih mungil dari pada tanaman aslinya. Karenanya, tanaman herba atau semak meskipun tingginya kurang dari 1 meter tidak bisa dikategorikan kerdil. Pasalnya di habitat aslinya memang tingginya hanya sekitar 1 meter.
Budidaya tanaman bonsai dapat melambangkan kesabaran dan tingginya tingkat kreativitas si pemilik, budidaya bonsai membutuhkan kreativitas, kesabaran, ketekunan dan kecintaan pembuatannya terhadap tanaman sebagai landasan utama dalam pembuatan dan perawatan bonsai. Bertanam bonsai dapat menciptakan kepuasan tersendiri saat mereka berhasil menciptakan bentuk yang unik pada bonsai kebanggaan mereka dan banyak menjadikannya sebagai salah satu koleksi untuk menghias rumah.
Namun dewasa ini masih sedikit orang yang bisa membudidayakan tanaman ini. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan yang mereka miliki tetang teknik dan cara dalam membudidayakan tanaman bonsai tersebut. Padahal jika mereka mau belajar, mereka dapat menkreasikan bentuk tanaman bonsai sesuai keinginan mereka, sehingga dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. Karena masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana cara membudidayakan tanaman bonsai, dan begitu banyak mannfaat yang di dapat dari pembudidayaan tanaman bonsai tersebut,  maka untuk itu pada artikel ini perlu dibahas mengenai teknik pembudidayaan tanaman bonsai.

1.2.      Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat penulis angkat dari latar belakang di atas adalah:
1.2.1.      Bagaimanakah kriteria tanaman yang dibuat menjadi tanaman bonsai?
1.2.2.      Bagaimanakah teknik budidaya tanaman bonsai yang tepat sehingga mampu dibuat menjadi tanaman miniatur dari bentuk pohon aslinya?

1.3.      Tujuan
Adapun tujuan penulisan dari rumusan masalah di atas adalah untuk mengetahui kriteria tanaman yang dibuat menjadi tanaman bonsai dan teknik pembudidayaannya agar tanaman tersebut mampu tumbuh dan dibuat menjadi tanaman miniatur dari bentuk pohon aslinya yang besar atau sudah tua di alam bebas.

1.4.   Manfaat
Penulisan artikel ini nantinya dapat memberikan manfaat kepada para pembaca tentang pengetahuan bagaimana kriteria tanaman yang akan dijadikan bonsai dan teknik pembudidayaannya yang tepat. Manfaat lainnya yaitu sebagai alat untuk menumbuhkan niat dan memotivasi para pembaca atau penggemar tanaman hias untuk berbudidaya tanaman bonsai.

2.      MATERI DAN METODE
Adapun materi yang digunakan dalam penyusunan artikel ini yaitu tanaman yang dapat dijadikan bonsai. Dalam penyusunan artikel ilmiah ini penulis menggunakan metode deskripsi dan pendekatan normatif, serta kepustakaan. Penulis menggunakan metode ini karena penulis mencari sumber-sumber yang relevan baik dari buku maupun internet yang selanjutnya penulis menjelaskan dan memaparkan bagaimana cara membentuk tanaman menjadi bonsai dengan menggunakan literatur yang ada.

3.      HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1.      Kriteria Tanaman yang Bisa Dibonsai
Tanaman atau pohon yang akan dibuat menjadi bonsai disebut dengan bakalan bonsai. Bakalan bonsai berupa tanaman yang diambil dari alam atau dari hasil perbanyakan, baik biji, setek, cangkok, okulasi, maupun enten. Dari mana pun asalnya, tanaman yang dimaksud harus memiliki kriteria-kriteria khusus untuk dapat dijadikan tanaman hias bonsai. Jika kriteria-kriteria tersebut terpenuhi, tentu tanaman tersebut dapat dijadikan bonsai yang sempurna. Umumnya, tanaman yang akan dibonsai harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :
1)      Tanaman dikotil, atau tanaman berkeping dua umumnya berbentuk pohon yang keras dan berekambium. Jenis tanaman inilah yang paling ideal dijadikan bonsai. Tanaman jenis monokotil (seperti jenis kelapa, bambu, semak dan perdu) bisa juga dikerdilkan, tetapi disebut dengan bonsai sejati.
2)      Berumur panjang, pasalnya, bonsai merupakan seni yang terus tumbuh, sehingga memerlukan tanaman yang bisa bertahan hidup puluhan, bahkan ratusan tahun.
3)      Tahan hidup menderita, sebaiknya tahan hujan dan panas. Selain itu, juga tahan terhadap kondisi wadah yang sempit dan terbatas. Sebagai bonsai, tanaman harus biasa hidup terus meskipun jumlah makanan atau nutrisinya sedikit dengan perkembangan akar dan batang yang seadanya.
4)      Bentuknya indah secara alami. Pohon yang akan dibonsai harus sudah memiliki daya tarik atau keindahan, baik daun, batang, akar, bunga, maupun buahnya. Keindahan tersebut akan semakin menonjol dan proporsional setelah mendapatkan perlakuan sesuai dengan tata cara pembonsaian yang benar.
5)      Tahan mendapat perlakuan. Untuk mendapatkan bonsai yang sempurna, pohon atau bakal bonsai perlu diperlakukan dengan teknik-teknik tertentu (detraining), misalnya diiris, dipangkas, dan dililit dengan kawat guna untuk mendapatkan bentuk yang sempurna. Contoh tanaman yang bisa dibuat bonsai di antaranya, yaitu Azalea, Pinus, Asam, Ulmus, Jeruk, Beringin, Bougenvill, Buxux, Sianto, dan lain sebagainya.

3.2.      Teknik Budidaya Tanaman Bonsai
3.3.1  Pembuatan Bibit Tanaman Bonsai
Pembuatan bibit untuk bonsai atau bakal bonsai dapat dimulai dari  pemilihan langsung jenis pohon yang memiliki cabang yang banyak yang nantinya tinggal diberikan perlakuan tertentu, seperti dipotong, dan dikreasikan agar dapat dibentuk menjadi tanaman bonsai. Disamping itu teknik pembuatan bibit tanaman bonsai dapat diperoleh dari biji yang khusus untuk disemaikan atau dari semai yang ada di alam bebas, setekan atau cangkokan yang pembuatannya memerlukan sedikit keterampilan, okulasi, dan bongkah-bongkah tanaman yang masih bertunas dan masih nampak bertahan untuk hidup.
1)      Semai Bakal Bonsai.
Perolehan bibit tanaman bonsai  dengan cara penyemaian sendiri dirasa kurang efisien, karena akan memakan waktu cukup lama.

2)      Setek, Cangkok dan Okulasi
Menyetek, mencangkok dan membuat okulasi merupakan seni tersendiri. Pembuatan bibit tanaman bonsai dengan cara menyetek dan mencangkok dapat menghasilkan tanaman baru dalam jangka waktu yang relatif singkat (1-2 bulan). Sedangkan membuat okulasi bisa membutuhkan waktu lebih dari 1 tahun. Jenis stek yang dikenal yaitu : setek lunak atau setengah lunak, setek keras, dan setek daun.
Untuk mencangkok, dipilihlah dahan minimal sebesar pensil atau ibu jari, dan kulitnya mudah dikelupas (tidak lengket). Teknik mencangkok 1) Kupas kulit dahan selebar 3-5 cm, 2) Buang lendirnya dengan mengerok atau melap dengan kain yang kering, 3) Biarkan 3-4 hari, 4) Kemudian tutup lukanya dengan mos yang dibasahi atau campuran antara tanah dan remah dengan kompos yang tua dengan perbandingan 1:1, 5) Balut mos atau tanah dengan lembaran plastik, dan ikat baik-baik di bagian atas dan bawah, 6) Dengan jarum lembaran plastik dilubangi agar sirkulasi udara dapat berlangsung dengan baik.
Untuk membikin okulasi dapat dilakukan pada jenis pohon misalnya buah-buahan yang akan dijadikan bonsai. Bibit okulasi terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu: a) Batang bawah (onderstam), b) Batang atas (entrijs). Langkah-langkah dalam perokulasian: 1) Batang pokok bersihkan 15 cm di atas tanah, 2) Sayat kulit 10 cm dari atas tanah selebar 8 mm, dengan membikin keratan di bagian atas dan kanan kiri menurun ± 4 cm panjang, 3) Tarik kulit ke bawah, sehingga menyerupai lidah, kemudian potong separuhnya, 4) Sayat mata dari dahan entrijs, dengan kayunya sedikit dari bawah ke atas, panjang ± 4 cm di atas mata yang merata, sehingga pas betul menempel pada keratan pohon pokok, 5) Angkat kayu perlahan-lahan tanpa merusak matanya, 6) Kulit yang bermata, masukkan antara kayu dan kulit lidah batang pokok, yang telah dibuka, dan tempelkan kembali, usahakan matanya tidak tertutup, 7) Balut dengan tali raffia yang erat.

3.3.2  Pemilihan Media Tanam Bonsai
Bonsai ditanam di dalam pot yang tipis, oleh karena itu media tanamnya sangat terbatas. Hal ini menyebabkan bonsai hanya memiliki persediaan nutrisi tanaman yang terbatas dan sangat sensitif terhadap air siraman atau air hujan.  Media tanam yang baik harus mengandung nutrisi dan bahan mineral yang cukup agar tanaman dapat hidup dan bertumbuh dengan baik. Macam-macam bahan yang di pakai untuk campuran media tanam bonsai meliputi.
1)      Pasir, bahan ini memiliki sifat porous sehingga mudah meneruskan air, mencegah air menggenangi media untuk waktu yang lama, dan memudahkan udara masuk ke dalam media tanam.
2)      Tanah, tanah yang umum dipakai yaitu tanah gunung yang hitam atau cokelat tua dan tanah merah.
3)      Humus, humus berasal dari dedaunan atau ranting pohon yang sudah mengalami proses pelapukan alami untuk jangka waktu yang lama. Humus mengandung banyak zat hara dan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman.
4)       Kompos, kompos banyak mengandung unsur hara dan biasanya di tambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik sesuai genetis dan potensi produksinya. pupuk kompos bisa di buat dalam bermacam-macam bentuk meliputi cair, curah, tablet, pelet, dan briket.
5)      Pupuk kandang, pupuk kandang yang biasa di pakai dari kotoran kambing. pupuk kandang yang boleh di pakai yaitu sudah matang, yang warnanya cokelat tua atau hitam dan tidak bau. Media tanamnya memerlukan tanah atau humus lebih banyak agar dapat mempertahankan air/kelembaban. Ada juga tanaman yang memerlukan nutrisi lebih banyak dari tanaman yang lain. Untuk itu, media tanamnya harus mengandung humus dan pupuk lebih banyak.

3.3.3  Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Bonsai
Penanaman tanaman bonsai diawali dengan pemilihan tanaman dengan batang utama yang cukup kuat kemudian memindahkan ke pot. Selanjutnya bentuk alur tanaman sesuai dengan yang anda suka dengan memakai kawat. Periksa ranting dan cabang yang tumbuh secara rutin untuk membentuk bonsai sesuai dengan apa yang kita mau. Hal lain yang tak kalah penting adalah pemilihan tanah, karena disanalah pembentukan batang, ranting dan dahan ditentukan. Pilihlah tanah dengan kadar humus sedikit dan jagalah kelembaban tanah tersebut namun jangan biarkan terlalu banyak air atau sampai menyebabkan tanah menggumpal, karena dapat mengancam hidup tanaman.
Disamping itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peneneman tanaman bonsai seperti : 1) Pot dan isinya. Pot merupakan sarana dalam kreasi bonsai yang tidak kalah penting dengan bonsai sendiri. Selain pot berbentuk baki, semua pot bonsai diperlengkapi dengan satu atau lebih lubang pembuangan air, yang ditutup dengan gas plastik atau yang lain. Resep umum medium untuk tanaman yang berdaun lebar (Beringin, getahperca, sawo, dan sebagainya) adalah: 50 % tanah liat sedang, 20 % pasir dan 30 % kompos; 2) Mengisi pot. Mengisi pot untuk tanaman bonsai merupakan duplikasi dari keadaan yang sebenarnya di alam bebas. Lapisan paling atasnya atau topsil, tebalnya tidak lebih dari 35 cm bersifat cerul, penuh dengan humus, dan subur. Lapisan kedua masih lunak, masih dapat menyalurkan air ke bawah menjadi air tanah. Lapisan ketiga bisa berbentuk lapisan tanah yang banyak batu-batuan berukuran beraneka ragam dan akhirnya lapisan paling bawah adalah lapisan induk batu yang kedap air; 3) Pengamanan isi pot. Batu kerikil, pasir dan tanah bisa mengandung serangga tanah yang membahayakan tanaman bonsai, terutama cacing dan nematoda. Untuk itu diperlukannya untuk memfilter isi pot agar terbebas dari Cacing tanah, serangga, jenis-jenis penyakit, dan Biji-biji rerumputan dan sebaginya terdapat di dalam tanah, agar tanaman tidak terganggu pertumbuhannya.; 4) Pemeliharaan setelah tanam. Setelah penanaman selesai, siram bakal bonsai dan tanahnya dengan mempergunakan spayer yang halus. Air penyiraman harus bersih dan tidak berlumpur dan nentral (tawar). Hentikan penyiraman jika air sudah berkelebihan dan mengalir ke luar melalui lubang air. Tempatkan kemudian bakal bonsai di tempat yang teduh, tidak banyak angin dan bebas dari gangguan anak-anak atau hewan kesayangan. Untuk mempercepat tumbuhnya kembali (recovering) bakal bonsai dapat diusahakan dengan menutup seluruh tanaman dengan kantung plastik transparan.

3.3.4  Penentuan Gaya Tanaman Bonsai
Penentuan gaya bonsai yang diinginkan tentunya mengacu pada ukuran bonsai. Ukuran bonsai diukur dari tepi atas pot sampai ke puncak mahkota. Berdasarkan ukurannya, bonsai dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu, kecil sekali ( mame bonsai ) tinggi s/d 15 cm, kecil ( small bonsai ) tinggi 15-30 cm, sedang ( medium bonsai) tinggi 30-60 cm, besar ( large bonsai ) tinggi 60-100 cm, besar sekali ( extra large )  tinggi  100-150 cm. 
Pada mulanya, bonsai hanya di buat menurut lima gaya yang terdiri dari gaya tegak lurus (chokan), tegak berliku (tachiki), miring (shakan), setengah menggantung (hang kengai), dan menggantung (kengai).
Seiring dengan perkembangan zaman, kelima gaya dasar tersebut kemudian berkembang menjadi gaya-gaya yang lain seperti berikut. Berumpun (kabudachi). Dari satu batang tanaman di permukaan tanah, pecah menjadi beberapa batang, bisa jadi 5,6,7 batang dan seterusnya yang masing-masing mempunyai satu mahkota lengkap. Kubah (hoki tsukuri). Batang tumbuh ke atas kemudian pecah menjadi beberapa cabang yang ujung-ujung daunnya membentuk kubah dengan perakaran yang kokoh ada di sekeliling batang. Akar terjalin (netsu neagari). Terdiri dari beberapa batang dan masing-masing batang tersambung oleh akar yang tampak di permukaan tanah. Rakit (ikada). Batang aslinya yang rubuh akan menjadi bonggol perakaran yang memanjang dan menghubungkan batang baru, yang terbentuk dari cabang-cabang pohon lama. Tampil akar (neagari). Perakaran ditampilkan menonjol keluar di atas permukaan media tanam dan keindahannya menjadi pusat perhatian. Disamping itu ada gaya tumbuh di batu. Tumbuh di dalam sela-sela batu/shizuke, atau tumbuh di atas batu/sekijoju, dengan perakaran tampak menonjol, bahkan mencengkram batu. Terpelintir (nejikan). Batang atau cabang terpelintir, gaya ini terbagi dua, yaitu satu cabang atau batang terpelintir. Selain itu ada yang dua batang atau dua akar yang saling memlintir satu sama lain. Sastrawan (Bunjin). Batang tanaman tinggi , mempunyai liukan, mahkota dan juga ranting-rantingnya hanya berdaun sedikit.
Merunduk (shidare tsukuri). Pada gaya jenis ini mulai dari cabang dan ranting semuanya merunduk ke bawah. Tertiup (fukinagashi). Pohon ini seakan tertiup angin terus-menerus sehingga semua perantingan mengarah ke satu sisi. Daun tidak rimbun, hanya tipis dan sedikit saja. Keringan (sharimiki), cabang atau ranting yang sudah kering/mati total, yang dapat berasal dari pohon itu sendiri atau merupakan buatan manusia (ditempel). Berbatang banyak. Berbatang dua (sokan), berbatang tiga (sankan), berbatang lima (gokan), dan seterusnya. dan berkelompok (yose ue). Biasanya terdiri dari sekelompok pohon yang di tata dalam sebuah pot tipis sehingga memberi kesan pemandangan yang luas seperti hutan atau kebun


3.3.5  Tahap Pembentukan Bonsai
Membentuk tanaman kerdil alias bonsai pada hakikatnya ialah membuat duplikat dari bentuk-bentuk pohon-pohon di alam bebas yang tetap di bawah ukuran yang normal. Adapun tahap dalam pembentukan bonsai yaitu:
1)      Tahap pertama, membentuk kerangka dasar. Bakal bonsai yang sudah siap untuk diberi kerangka dasar adalah yang sudah benar-benar sehat kembali, setelah mengalami pemindahan. Batang pokoknya praktis sudah tidak tergoyahkan lagi dan sudah cukup mencapai ketinggian yang diperlukan pada akhirnya untuk dibentuk. Sebelum membentuk kerangka dasar, rencanakan terlebih dahulu masak-masak bentuk bonsai yang dikhayalkan, dan bagaimana kira-kira bentuk bonsai pada akhirnya nanti.
2)      Tahap kedua merubah arah dan bentuk. Merubah bentuk dan arah tumbuhnya batang pokok dan dahan-dahan merupakan suatu paksaan dan memakan waktu hingga bentuk dan arah yang dikehendaki tercapai.Untuk keperluan tersebut diperlukan sarana untuk memudahkan pelaksanaannya seperti kawat kuningan dari beberapa ukuran diameternya, tali raffia, tang untuk memotong kawat, gunting pemangkas, gunting biasa, pisau kecil yang tajam, tang yang runcing ujungnya dan cellotape.

3.3.6  Penyempurnaan Bentuk Bonsai
Tidak semua jenis tanaman dapat dikerdilkan. Tanaman yang dapat memenuhi persyaratan untuk dikerdilkan adalah tanaman yang mempunyai daun berukuran kecil, misalnya Beringin, jeruk kingki (Triphasi aurantium), jenis-jenis coniper (cemara, pinus ), delima (punika granatum) dan sebagainya. Penyempurnaan bonsai kini letaknya untuk menyusun ranting-ranting dengan daunnya yang cukup lebat, namun seimbang dengan bentuk dan ukuran bonsai keseluruhannya. Pengendalian pertumbuhan pada tanaman bonsai dilaksanakan melalui pemangkasan dan pengetipan / pemetikan titik tumbuh. Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong dahan atau ranting yang sedekat mungkin dengan kuntum yang nampak sehat tutup lukanya yang besar dengan paraffin. Setelah itu dilanjutkan dengan melilit dahan-dahan yang memanjang menggunakan kawat selama pertumbuhan baru, untuk membentuk penampilan bonsai selanjutnya, hasil yang cukup mengesankan baru dapat dicapai setelah beberapa tahun.

4        PENUTUP
4.3        Simpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, Adapun kesimpulan dari penulisan artikel ini antara lain.
4.3.1  Kriteria tanaman yang akan dibuat menjadi bonsai diantaranya yaitu tanaman dikotil (berkeping dua), berumur panjang, tahan hidup menderita, bentuknya indah secara alami dan tahan mendapat perlakuan.
4.3.2  Teknik pembudidayaan tanaman bonsai meliputi proses pembuatan bibit tanaman bonsai, pemilihan media tanam bonsai, dan penanaman serta pemeliharaan tanaman bonsai yang didalamnya mencangkup penentuan gaya tanaman bonsai, teknik pembentukan dan penyempurnaan tanaman bonsai.

4.4        Saran
Adapun saran yang dapat penulis sampaikan antara lain.
4.4.1        Bagi para pemula dalam membentuk tanaman menjadi tanaman bonsai hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian yang tinggi, terutama  dalam proses pembentukan gaya tanaman bonsai, agar tanaman tidak cacat sedikitpun, sehingga pertumbuhannya tidak terganggu.
4.4.2        Bagi yang memiliki tanaman bonsai, hendaknya memeliharanya dengan baik, karena membentuk tanaman kerdil dan memeliharanya hingga beberapa tahun lamanya, merupakan suatu kesenian tersedirinya.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Tips dan Belajar Budidaya Tanaman Bonsai. Tersedia dalam : http://kaptenworld.mywapblog.com/tips-dan-belajar-budidaya-tanaman-bonsai.xhtml, [diakses pada tanggal 12 Desember 2011]
Anonim. 2011. Mekanisme Pengkerdilan Tanaman Bonsai. Tersedia dalam : http://quantumremaja.org/mekanisme-pengkerdilan-tanaman-bonsai.htm,
[diakses tanggal 12 Desember 2011]
Dahnial, Iwan. 2008. Aneka Tanaman Bonsai. Tersedia dalam http://iwandahnial.wordpress.com/2008/06/17/aneka-tanaman-bonsai/,
[diakses tanggal 12 Desember 2011]
Sapto, Galih. 2011. Pohon Bonsai. Tersedia dalam : http://tanaman.org/pohon-bonsai_42.htm/, [diakses pada tanggal 12 Desember 2011]
Wikipedia. 2011. Budidaya dan Perawatan Tanaman Bonsai. Tersedia dalam : http://en.wikipedia.org/wiki/Bonsai_cultivation_and_care,
[diakses pada tanggal 12 Desember 2011]

5 komentar:

  1. Silahkan mengunjungi blognya orang yang suka berkebun. Tentang semua jenis tanaman bonsai, peralatan, dan lainnya. http://www.bonsai.id/

    BalasHapus
  2. PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

    menyediakan Hormon STREPSON untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www.tokopedia.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

    BalasHapus
  3. PUSAT SARANA BIOTEKNOLOGI AGRO

    menyediakan Hormon STREPSON untuk keperluan penelitian, laboratorium, mandiri, perusahaan .. hub 081805185805 / 0341-343111 atau kunjungi kami di https://www.tokopedia.com/indobiotech temukan juga berbagai kebutuhan anda lainnya seputar bioteknologi agro

    BalasHapus
  4. Seed sowing while still fresh; if necessary short-term storage, seeds should not be allowed to dry.
    togel online
    v

    BalasHapus